queenpella

Posts Tagged ‘unintended’

My unintended

In Uncategorized on June 22, 2011 at 6:53 pm

Pria itu masih terdiam di balik meja kantornya. Beberapa pekerjaan yang menjadikannya harus lebih lama berada di kantor sudah selesai tiga puluh menit yang lalu. Tapi kemacetan Jakarta membuat ia kembali mengurungkan niat untuk segera pulang.

Ia memandang ke luar jendela. Kota Jakarta pada malam hari begitu terlihat cantik dari tempatnya. Ia memandang kosong ke arah jalanan yang padat. Ah, lampu-lampu jalanan itu malah mengingatkannya akan seseorang yang tengah ingin ia lupakan.

Luka. Kadang ia menggores dengan tak sengaja, meninggalkan bekas yang mati-matian coba kau sembuhkan. Sementara pada beberapa lainnya, mereka justru membiarkan hatinya terluka, membiasakan diri dengan sakitnya, lalu menikmatinya menjadi sebuah rutinitas seperti menyesap kopi di pagi hari. Hingga lalu mati rasa.

Dan pria itu adalah salah satu dari bagian yang kedua. Yang membiarkan diri menikmati luka. Menjalani sesuatu yang ia sendiri tak tahu berujung di mana. Hingga entah berapa senja ia habiskan untuk menunggu hujan turun, berharap mampu membasuh sedikit saja dari luka yang ada. Karena ketika matahari datang esok pagi, luka baru lalu akan muncul.

Tapi merelakan luka pergi-baginya-sama saja mengubur entah berapa banyak mimpi dalam sebuah kotak yang ia tutup rapat-rapat. Lalu ia biarkan kuncinya hilang entah ke mana. Mungkin rasanya akan jauh lebih sakit dari membiarkan luka itu sendiri menyerangnya tanpa peduli. Ia seolah tak punya pilihan.

Potongan kisah bersama wanita-nya dulu lalu melintas. Pelan. Satu demi satu. Selalu saja hadir di setiap ia sendiri seperti ini.

Dulu, wanita itulah sumber pengharapannya. Di mana ia merelakan semua mimpi untuk ikut bersamanya. Lalu menghitung dengan jari-jemari, berapa banyak mimpi itu bisa terwujud.

Tapi hidup adalah sesuatu yang selalu berubah-ubah. Tidak tetap berada di satu titik. Kadang ia bergerak semaunya, meninggalkan kita dengan harapan-harapan yang ada, terlebih meninggalkannya bersama luka.

Tapi hidup adalah sesuatu yang tak terencana. Terkadang, dalam beberapa perjalanannya, hidup membuat pria itu harus menarik nafas berkali-kali. Merelakan satu demi satu mimpi yang ia percayakan, terambil kembali. Sembari melambaikan tangan pada susunan rapi rencana hidup yang dibangunnya, bersama wanita tersebut.

“Luka adalah mengenai penerimaan. Bukan hanya berkutat pada proses penyembuhan…”

Lalu ia teringat potongan sebuah kalimat itu. Yang masih dilanjutkan dengan kalimat-kalimat lain.

“…dan merelakan luka, adalah sejauhmana kau bisa mengenali dirimu sendiri. Menerima bahwa luka adalah bagian kecil dari hidup.”

Namanya Rhein. Wanita yang selama ini menemaninya memelihara luka. Yang tahu betul pada titik apa kemudian ia terjatuh lebih jauh, karena merasa goresan itu tertinggal terlampau dalam.

Ia lalu mengetikan sebuah pesan singkat pada ponselnya.

Sepertinya aku sudah tahu, kepada siapa kelak mimpiku harus dititipkan.

Sebuah pesan baru masuk.

“Mimpi itu tidak selalu harus dititipkan. Ia hanya perlu kau taruh tinggi-tinggi. Dan yang lalu kau perlukan, adalah seseorang yang mau meraihnya bersamamu. Tanpa peduli harus melompat, atau bahkan sesekali terjatuh.”

Pria itu tersenyum. Memutar sebuah lagu yang belakangan amat disukai dalam salah satu playlist-nya. Muse-Unintended.

 

You could be my unintended

Choice to live my life extended

You could be the one I’ll always love

 

Karena hidup adalah sesuatu yang tak terencana. Sama halnya dengan luka, bahkan cinta. Dan ia, adalah sesuatu yang juga tak terencana.

Life Extended

In song on June 15, 2011 at 3:44 am

Kau bilang setiap kita pernah terluka, beberapa terluka begitu parah bahkan tak mampu menghilangkan bekas nya.Dan dia masih saja menjadi luka yang menganga untukku, perih.

gambar dicomot dari musicprofile.co.za

Begitu tersakiti benar dapat membutakan mata hati

Senin sore disebuah taman, wajah dan kemejaku sama lusuh. Satu cup hot chocolate masih menyisakan hangat dan manis nya, menemaniku tanpa sentuh. Dua kali 3:57 Unintended berulang di playlist. Sial ! lamunanku makin dalam dibuatnya.

Kau bilang tak mengapa jika aku masih menikmati lukaku, tak perlu ada peran penyembuh. Self healing therapy lebih manjur, saran mu.

Saat kau bertanya mengapa mengabadikan perpisahan, membingkai nya dalam pigura besar di sebuah ruang kosong, hingga tak ada lain yang ku lihat selain perih. Aku diam, mengutuki bodoh ku sendiri.

Dia adalah yang terencana, gelas gelas espresso yang kuhabiskan lepas malam adalah tentang nya. Memasa depan kan aku dan dia.

Dia adalah gulungan perkamen mimpi mimpi, sudah kuukir detail nya dengan sangat hati hati. adalah lembaran halaman penuh tulisan masa depan.

Dan kau, kau berada di luar run down kehidupan ku

Kau datang, menyapa, tertawa, membiarkan ku menikmati luka.

kau memang bukan lah yang terencana, kau adalah perpanjangan kehidupan.

You could be my unintended

Choice to live my life extended

You could be the one I’ll always love

-queeny-