queenpella

Archive for the ‘song’ Category

Life Extended

In song on June 15, 2011 at 3:44 am

Kau bilang setiap kita pernah terluka, beberapa terluka begitu parah bahkan tak mampu menghilangkan bekas nya.Dan dia masih saja menjadi luka yang menganga untukku, perih.

gambar dicomot dari musicprofile.co.za

Begitu tersakiti benar dapat membutakan mata hati

Senin sore disebuah taman, wajah dan kemejaku sama lusuh. Satu cup hot chocolate masih menyisakan hangat dan manis nya, menemaniku tanpa sentuh. Dua kali 3:57 Unintended berulang di playlist. Sial ! lamunanku makin dalam dibuatnya.

Kau bilang tak mengapa jika aku masih menikmati lukaku, tak perlu ada peran penyembuh. Self healing therapy lebih manjur, saran mu.

Saat kau bertanya mengapa mengabadikan perpisahan, membingkai nya dalam pigura besar di sebuah ruang kosong, hingga tak ada lain yang ku lihat selain perih. Aku diam, mengutuki bodoh ku sendiri.

Dia adalah yang terencana, gelas gelas espresso yang kuhabiskan lepas malam adalah tentang nya. Memasa depan kan aku dan dia.

Dia adalah gulungan perkamen mimpi mimpi, sudah kuukir detail nya dengan sangat hati hati. adalah lembaran halaman penuh tulisan masa depan.

Dan kau, kau berada di luar run down kehidupan ku

Kau datang, menyapa, tertawa, membiarkan ku menikmati luka.

kau memang bukan lah yang terencana, kau adalah perpanjangan kehidupan.

You could be my unintended

Choice to live my life extended

You could be the one I’ll always love

-queeny-

Menyederhanakan bahagia

In song on June 8, 2011 at 1:56 pm

Lampu jalanan kota mulai berpendar. Satu demi satu menerangi ruas jalan yang aku lewati. Satu-satunya alasan mengapa aku memilih penginapan di sekitar Malioboro adalah untuk menikmati ia di waktu malam. Malioboro dengan riuhnya para pengayuh becak atau seruan para pedagang di sisi ruas sebelah kanan maupun kiri.  Juga beberapa pengamen jalanan ketika membawakan lagu-lagu yang beberapa di antaranya begitu kuhapal sehingga bisa ikut menyanyikannya.

Aku memilih terus menyusurinya. Menikmati setiap langkah yang entah menuju kemana. Mungkin menuju salah satu angkringan yang berada di ujung Malioboro, atau sekedar mampir pada restoran siap saji yang selalu buka dua puluh empat jam itu. Entahlah, malam ini aku hanya sedang ingin mengingat kamu. Kamu, yang setahun lalu juga aku temui di kota ini. Kotamu.

Yogya di waktu malam adalah sisa hujan menggenang, udara mendingin, juga langit yang mulai terang. Langit yang separuhnya seperti mempertontonkan pertunjukan kerlap-kerlip bintang. Kerlap-kerlip yang setelahnya hanya aku lihat dari matamu. Bedanya, kerlap-kerlip langit itu akan hilang ketika pagi berangsur naik. Sementara kerlip pada matamu akan tetap berada di situ. Tidak hanya terang di saat malam seperti lampu jalanan Malioboro.

Dari jarak beberapa meter aku sudah melihatmu. Sepersekian detik mata kita beradu sebelum akhirnya kamu menangkap bayanganku di bawah cahaya lampu. Lalu kita sama-sama mengayun langkah, memendekkan jarak. Menciptakan lagi kita, yang katamu menjadi satu-satunya hal yang mampu membuatmu bahagia.

Karena bahagia adalah menikmati segala yang bersama kamu. Sesederhana itu. Sesederhana kita memaknai apa itu bahagia.

-capella-

Saat Bahagia

In song on June 1, 2011 at 12:56 am

Kali ke tiga ruang tunggu Soetta terminal satu c, kelamaan aku hafal detail tempat ini. Deret kursi diagonal dengan nuansa merah hijau, counter informasi di pojok kanan ruangan, restroom monosex dan mushola mengapit jalur masuk menuju landasan juga hati ku yang selalu berdebar lebih cepat.

kuhirup dalam udara ruang tunggu yang wangi rindu, menyebutkan nama mu memastikan partikel nya tersimpan dalam paru paru mengendap disana kemudian menyusuri tubuh ku lewat hemoglobin dalam darah. Tiga puluh lima menit sebelum boarding kuhubungkan selular ku pada mu, hanya ingin memastikan kau akan ada disana menyambut ku

Hujan gemericik saat soetta melepas burung besi yang kutumpangi, gemericik seperti riuh riang nada hati. Saat ini langit memang tidak sedang merah muda, ia kelabu. Tapi potongan gambarmu dalam memori ku mampu menyulap langit sewarna merah muda. kamu – laki laki yang akan terus memenuhi ruang hatiku. Dan jarak, tadinya aku berfikir bahwa jarak akan memudarkan yang terjalin diantara kita. Nyatanya tidak, jarak justru membuat kita semakin mengerti. Bahwa aku, kau – kita saling mengisi.

Aku mulai menyukai Soekarno-Hatta dan Adi Sucipto yang wangi rindu, ketukan halus jemari ku menghitung detik menuju mu, ritme hati yang lebih cepat melaju ketika retinaku menangkap bayang mu, juga bias semu merah di pipi saat aku mendekap mu

Kali ini jogya dan Jakarta memang bersaudara, satu hati seperti kita. Aspal landasan yang menghitam dan tetes air di jendela, Hujan sama gemericik menemani ku landing. Tak kutemui sosok mu, bergegas kutarik kotak baju menuju luar ruang tunggu. Sederet taxi hijau tua berlomba mendapatkan penumpangya. Ndak pak, saya dijemput

Kubiarkan waktu bermain dengan rindu. Bersandar pada dinding selasar kecil adi sucipto. Mendengarkan nada gelisah yang dimainkan hujan. Memutar ulang rekaman gambar mu dalam ingatan, menanti saat bahagia ku datang.

Bertaruh dengan hati bahwa kau tidak akan membiarkan aku menunggu lama.

Dan disanalah kamu, laki laki yang memahatkan lengkum senyum di bibirku. Melambaikan tangan berlari lari kecil dibasahi hujan – menuju ku. Kamu tersenyum, aku tertawa.

Serupa hangat menjalari tubuh kita, menjadikan saat bahagia

-queeny-