queenpella

Archive for August, 2011|Monthly archive page

Kotak bernama masa lalu

In Uncategorized on August 14, 2011 at 11:55 am

Ping.

Ponselnya berbunyi. Ah, pria itu—lagi.

Pria itu datang. Bukan secara tiba-tiba. Sebelumnya mereka telah berteman di salah satu jejaring sosial bernama facebook, pun sudah saling bertukar nomor telephone sejak lama. Sesekali berkirim pesan, saling bertukar kabar. Tapi hanya sebatas itu. Meski kadang terjadi ziarah masa lalu. Percakapan-percakapan singkat yang mengajak mereka kembali menapaki kenangan.

Kenangan, akan selalu indah bila kita telah sampai pada tahap merelakan. Hanya dengan begitulah kita bisa riang menjejakinya. Seriang rintik hujan yang menjarumi tanah. Suaranya seperti belasan anak kecil yang tertawa sambil berkejaran. Pun seperti melody lagu-lagu tua. Lagu lama yang selalu bisa menghadirkan puzzle-puzzle masa lalu.

“Kamu masih suka mencari kunang-kunang?” Pria itu membuka percakapan. Setelah lama hanya diam, mungkin tengah saling memandangi layar masing-masing. Dan tentu saja memilah kata yang paling tepat untuk memulai pembicaraan.

Dulu ia memang suka bercerita mengenai kunang-kunang. Mengejarnya di setiap malam. Hingga lalu ia tersadar, menggenggam kunang-kunang sama saja meredupkan cahayanya perlahan. Sejak saat itulah ia berhenti mengejar kunang-kunang.

Ia tahu ke mana arah pembicaraan itu. Pria itu mungkin tengah ingin merangkai jalan menuju kenangan. Ia tersenyum tipis.

“Kamu tahu, waktuku sekarang berjalan begitu cepat. Seperti hanya tersedia 4 jam saja setiap harinya. 20 jamnya entah kemana…”

Ia tersenyum. Ah, tentu ia tahu rasanya. Sangat tahu malah. Bagaimana waktu berjalan begitu cepat. Bagaimana waktu seperti melipat diri sehingga waktunya dan yang lain tak tersedia dalam porsi yang sama. Bagaimana ketika pikirannya hanya terpusat pada satu nama. Bagaimana ketika perasaan itu meluap-luap tanpa kendali. Dan bagaimana jarak lalu mempergunakan kuasanya untuk membuat mereka berjauhan. Hatinya patah. Hancur berserakan.

“…perhatianku terpusat padamu.”

Ya, sampailah mereka pada pembicaraan itu. Pembicaraan yang harusnya terjadi beberapa tahun yang lalu. Yang harusnya terjadi ketika hatinya masih meluap-luap tanpa kendali. Yang harusnya terjadi bukan pada saat pria itu sudah berada dalam list teratas masa lalunya.

Ia diam. Meletakan ponsel ke tempat semula. Pembicaraan mengenai masa lalu takkan pernah ada habisnya. Tapi baginya, masa lalu adalah sesuatu yang telah jauh tertinggal di belakang. Ia sesekali melihatnya, memastikan masa lalu tetap berada pada tempat semestinya. Tidak lalu mengikutinya hingga ia lelah berkejaran. Lalu menyeretnya pada puing-puing kenangan.

Lalu baginya, masa lalu tak lebih dari sebuah pertanda. Pertanda jika ia pernah sakit, terjatuh, lalu bangkit dan ternyata baik-baik saja. Bahwa luka-luka sayatan itu masih meninggalkan bekas tapi telah lama kering.

Mengapa harus ada orang yang terlambat menyedari. Terlambat mencintai. Mengapa harus ada orang yang datang di beberapa tahun setelah namanya berada dalam kotak masa lalu. Membuat ia seperti telah melakukan kesalahan besar. Kesalahan karena tak bisa memelihara cinta. Tak sabar menjaga harap, dan lekas memasukkan pria itu dalam bagian bernama kenangan.

Ia lalu kembali meraih ponselnya. Bukan untuk membalas pesan kenangan tadi, tapi memutar salah satu lagu dalam playlist-nya. Lagunya dulu bersama pria tersebut. Lagu, yang setiap ia dengarkan selalu saja mampu membawa rasa lain. Rasa yang entah apa.

Tak semestinya ku merasa sepi

Kau dan aku di tempat berbeda

Seribu satu alasan melemahkan raga ini

 

Aku di sini mengingat dirimu

Kumenangis tanpa air mata

Bagai bintang tak bersinar, redup hati ini

 

Dan kumengerti sekarang

Ternyata kita menyatu

Di dalam kasih yang suci

Kuakui kamulah cinta terakhir

Gigi, cinta terakhir

 

-capella